A. Pendahuluan
Indonesia adalah ayat ayat kauniyah yang belum selesai dibaca, sebuah gugusan pulau bukan hanya sekedar pertemuan lempeng teknotik, tetapi ada pesan ekologis dan ekoteologis yang ditampakan oleh alam, namun semakin jarang ditafsir oleh manusia yang mewarisnya saat ini. Ayat ayat kauniyah tanda tanda alam yang menjadi bahasa Tuhan bagi realitas fisik, telah lama bertutur, bersabda dan berbicara kepada negeri ini, ironisnya, kita lebih tertarik menafsirkan kebisingan teritorial, politik, ekonomi dan sosial dari pada belajar dari bisikan bumi melalui hembusan angin, hujan, hutan, laut, sungai , hamparan sawah, terhadap pemaknaan hakiki ayat ayat kauniyah.
Hutan bukan ditafsir sekedar komoditas tetapi Institusi sumber pengetahuan hayati dan hewani, kini hutan kehilangan, kemampuanya menyerap air dan menjaga kestabilan tanah dan menjaga keseimbangan kehidupan flora dan fauna. akibat keserakahan manusia manusia merusak ekosistem.Lautan bukaN sekedar sumber pangan tetapi sistem sirkulasi energi pelanet, kini lautan dipenuhi limbah dan ditambangi secara liar dan serampangan, merusak ekosistem pesisir dengan memagari laut menyulitkan kehidupan masyarakat nelayan.Sungai bukan sekedar saluran air, tetapi indikator kesehatan sosial masyarakat, Sungai kini dipenuhi pembuangan sampah dan limbah akhirnya kehilangan fungsi purifikatifnya, memicu kerusakan kualitas air.Gunung bukan sekedar destinasi wisata, tetapi pengingat tempat pijakan . kini gunung banyak diganggu dengan penambangan dan alih fungsi lahan, ketidak setabilan ekologi yang akan memicu erosi ketidak simbangan ekoteologis membuat kekufuran dan kemunafikan.
Bencana yang terjadi menuntun manusia untuk membaca ayat-ayat kauniyah ( alam )secara kritis ilmiah dan aligoris serta ilahiyah .
1. Pulau pulau sebagai lembaran kitab dan ayat yang sering disobek sendiri
Alegori kosmik, indonesia adalah mushaf besar, Sumatra sebagai halaman pembuka yang merekam gelombang sejarah samudra india yang kini semakin termarjinalkan. Jawa sebagai lebaran lembaran utama tempat manusia menulis sejarah tetang kemakmuran dan sekaligus ketamakan,keserakahan yang dibalut dengan kebijakan kedutstaan, kalimantan sebagai bab-bab panjang tentang hutan tropis, paru paru hidup yang kini kehilangan paragraf-paragraf hijaunya yang kini dipaksa menghirup udara kotor dan beracun, , Nusa tengara sebagai catatan kaki yang rapuh, diterpa tepi tepi kekeringan batin para penguasa , papua sebagai halaman halamn yang di coret-coret dengan tinta tambang.tampa kesejahtraan bagi warganya.
Ayat ayat kauniyah disetiap lembar kehidupan itu berbicara, bisa lewat data ilmiah .tetapi kita sering menjadi pembaca tanda tanda itu sebagai pembaca malas, konyol dan bebal. Akhirnya berujung salah tafsir atau menutupnya karena tak ingin disalahkan atau bertanggung jawab.
2. Banjir, Asap, dan Gempa: Retoreka sabda Alam yang menjadi kritik sosial
Ketika terjadi banjir datang kita menyebutnya musibah dan balai. Namun dalam alegori alam, banjir adalah kalimat jawaban tegas ‘ kalian membangun dan meperlakukan kami tidak pri kelaman.
Gempa dan letusan gunung tidak selalu amarah melainkan footnote geologis tetang fakta bahwa negeri ini berdiri dijalur aktif secara tektonik, suatu kenscyaan menuntut kita lebih siap, bukan ketakjuban semata atau di tafsikan sebagai kesalahan murka Tuhan.
Dalam narasi alogoris , fenomena itu di ibaratkan sebagai suara alam yang terus mengingatkan bahwa sesuatu kebijakan yang tidak mengakar pada ekologis akan runtuh secepat tanah longsor yang akan menggelincirkan rumah rumah penduduk di lereng gunung.
3. Sains Mendengar, Namun Politik ekonomi Menutup Telinga
Sering kita dengar para ahli peneliti telah memprediksi mengurai bahasa alam dalam angka-angka statistik analisis, ada curah hujan ekstrem, debit sungai meluap, indeks kualitas udara buruk, mantinya puluhan ribu keneka ragaman hayati dan hewani. Ayat ayat kauniyah sudah dijelaskan dengan pendekatan ilmiah, namun yang sering terjadi adalah jarak antara pengetahuan dan kebijakan sering timpang karena disebabkan tafisr parsial para pemangku kebijakan hanya berdalil demi kepentingan politik ekonomi.
Alegori Indonesia hari ini adalah tokoh yang cerdas tetapi dikelilingi penasehat penasehat yang hanya sibuk berdebat mempersoalkan remeh temeh. Sementara suara bumi terus bersabda menunut keseimbangan tetapi tidak pernah direnungkan akhirnya buta membaca.
4. Ayat Kauniyah( Alam) Bebicara di Sumatra dan Aceh
Banjir di sumatra bukan peristiwa alam biasa tetapi merupakan fitnah kolektif yang lahir dari kezaliman sosial strukturah dari kelompok manusia manusia serakah. ayat banjir merupakan sebuah teks yang paling gamblang dan terbuka untuk bisa dibaca oleh pikiran dan mata jiwa yang jernih .
Bencana yang terjadi adalah bahasa Tuhan yang turun kadang tampa suara, dengan tiba sesuai kehendaknya, memaksa manusia yang tidak bedosa sekalipun akan kena bala dan musibah, ribuan keluarga yang tak pernah ikut menebang pohon turut tertimpa banjir, masyarakat yang tak pernah tau menyasikan ijin tambang turut terseret banjir bandang, masyarakat yang tak pernah tau ijin birokrasi kehutanan dikeluarkan menjadi korban sungguh kebiadaban bagi yang merusak hutan tampa tanggung jawab.
Membuktikan bahwa saat ini yang terjadi di sumatra dan aceh mengabarkan sebuah fakta bahwa izin tambang yang yang diproduksi adalah kering dari etik moral, penataan hutan yang melawan geografis alamiah, dan pembangunan berbasis proyek kapiatal tampa memperdulikan lingkungan keraifan lokal. Untuk itu bumi bereaksi melakukan jawaban moral untuk mengingatkan kita akan bahanya manusia rakus penebar fitnah Alam.
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Maha Keras hukuman-Nya.,(QS al Anfal 25)
B. Penutup
Hutan, laut, sungai dan gunung adalah kitab alam dari ayat ayat kauniyah yang seolah olah terhampar sunyi, tetapi ketika manusia terus menerus merobek halamanya, menebang tampa jeda, mencemari tampa rasa malu, menambang tampa batas . kemudian ayat ayat kauniyah berubah menjadi bersuara berbicara dengang hadirnya Banjir, longsor, kebakaran dan gelombang besar laut. Sebuah bisikan keras bahwa keseimbangan telah dilangar dan diganggu Alam sebenarnya tidak marah ia hanya mengembalikan apa yang manusia lakukan. Maka Sebelum seluruh Kitab dan ayat ayat kauniyah hilang dan dihilangkan Pemiliknya yaitu Allah SWT, Tuhan Yang Maha kuasa. Oleh karena itu manusia di tuntut membaca ulang pesanya yaitu jagalah keseimbanganya atau bersiaplah mendengarkan peringatan yang lebih lantang dan lebih besar.
Oleh : Dr. AMin Ridwan, M.Pd
Sekretaris FKUB




Komentar